Ketiganya memiliki tantangan tersendiri. Bagi pengusaha yang mulai dari nol, tantangannya adalah bagaimana menciptakan peluang usaha dan bagaimana memperkuat peluang usahanya. Untuk pengusaha yang mulai dari profesional, tentu tantangannya bagaimana membuat produk yang bisa bersaing dengan perusahaan sebelumnya. Sedangkan pengusaha yang melanjutkan bisnis orang tua tantangannya adalah bagaimana bisa berbuat lebih baik dari pendahulunya. Maksudnya, Bila saat memulai usaha, sang orang tua hanya mampu membuat satu, pengusaha generasi berikutnya harus mampu membuat yang lebih.
Yang harus dimiliki seorang bila ingin menjadi pengusaha sukses adalah, kepercayaan diri dan kreatifitas. Ini adalah modal utama menjadi pengusaha. Karna seorang pengusaha harus punya kreatifitas untuk membuat suatu produk yang menarik dan punya nilai jual yang lebih dibanding dengan produk sejenis. Untuk itu seorang pengusaha juga punya kepercayaan diri yang tinggi agar bisa membangun usahanya. Dari segi modal secara materi, sebenarnya bisa disiasati dengan program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Jadi masalah modal saat ini bukan persoalan, yang menjadi persoalan adalah kelayakan dari usaha tersebut. Terkadang seseorang memiliki cita-cita menjadi pengusaha, tapi tidak bisa dituangkan dalam sebuah proposal. Kelengkapan Hukum yang berhubungan dengan usaha tersebut juga tidak ada. Seperti, surat izin usaha atau badan usaha. Ini jadi kendala saat mengajukan peminjaman modal. Bila Legalitas lengkap, bukan tidak mungkin Bank akan mengucurkan dana pinjaman.
"Ada lima perkara perusak hati, 'bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'" Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
13 Mar 2009
Tips Menjadi Pengusaha Sukses
23 Feb 2009
Pengamat: Sekarang Kesempatan untuk Syariah
JAKARTA, SENIN — Para pengamat ekonomi syariah mengatakan, kehancuran pasar finansial di AS saat ini mendorong penguatan ekonomi syariah. "Bila sebelumnya pasar finansial di AS disebut-sebut sebagai kiblat, setelah kehancurannya saat ini mereka sadar, perekonomian AS yang ditopang kapitalisme liberal ternyata sarat akan potensi krisis, ini potensi bagi ekonomi syariah untuk menunjukkan kekuatannya pada dunia," kata pengamat ekonomi syariah, Syakir Sula, di Jakarta, Senin (29/9).
Menurut dia, saat ini krisis yang melanda AS karena prinsip pasar finansial telah kehilangan prinsip kehati-hatian yang seharusnya dijaga. Hal ini karena perkembangan pasar finansial sendiri tidak lagi berhubungan dengan sektor riil.
"Pasar keuangan menjadi seperti gelembung balon yang berjalan sendiri dan tidak terkait dengan sektor riil. Jadi perkembangan pasar finansial tidak serta merta pertumbuhan di sektor riil. Namun demikian, kehancuran pasar keuangan justru memukul telak perekonomian karena pengaruh yang kuat di pasar ini," katanya.
Syakir menambahkan, hal ini berbeda dengan ekonomi syariah yang tetap memiliki keterkaitan antara pasar finansial dan pertumbuhan sektor riil. "Di syariah, pertumbuhan sektor finansial terkait erat dengan pertumbuhan sektor riil sebab prinsipnya adalah kemaslahatan bersama, jadi ada perbedaan," katanya.
Sementara itu, pengamat ekonomi syariah, Adiwarman Karim, mengatakan, ke depan akan terjadi konvergensi (menuju ke satu titik) antara ekonomi konvensional dan ekonomi syariah. "Krisis ini menjadi pelajaran berharga di mana pasar finansial dari ekonomi konvensional akan lebih berhati-hati dan pada prinsipnya nanti akan menyerupai prinsip ekonomi syriah," katanya.
Menurut dia, krisis ini akibat ekpansifnya bisnis sektor keuangan dengan menerbitkan berbagai surat berharga turunan yang membuat resiko di pasar keuangan tinggi. "Kita ketahui, saat ini di pasar perumahan AS, surat berharga yang dijual merupakan turunan ke tujuh dari surat berharga awal," katanya.
Ia menjelaskan, di AS surat gadai bisa diperjualbelikan dan juga bisa dibuat surat gadai turunan untuk kemudian diperjualbelikan. "Dan ini memicu kerentanan, sebab otoritas tidak bisa lagi mengendalikan karena banyaknya surat berharga turunan yang diperjualbelikan, otoritas jadi kehilangan kekuatannya," katanya.
Untuk itu, menurut dia, di masa mendatang, pemerintah barat akan menertibkan masalah tersebut. "Dan ini akan mendekatkan dengan prinsip-prinsip syariah," katanya.
Menurut dia, perkembangan ini membuat ekonomi syariah memiliki kesempatan yang lebih baik untuk terus tumbuh. "Sebab bila peraturannnya telah mendekati atau hampir sama dengan prinsip syariah, maka keduanya menjadi setara dalam berkompetisi sebab selama ini perekonomian konvensional lebih maju karena sangat cairnya peraturan yang mereka buat, terutama atas nama pasar," katanya.
XVD
Sumber : Ant